Senin, 28 Januari 2013

Mau Jadi Apa Aku Kelak..?


Tampang bingung. Itulah gambaran yang bisa dilukiskan di wajah seorang bocah 6 tahun, saat melihat lalu-lalangnya kendaraan di jalan. Bocah itu seakan tidak memperdulikan hilir mudik orang-orang yang melaluinya bahkan ada beberapa orang yang hampir menendangnya. Dia pun seakan tidak senang saat beberapa orang yang lewat memasukan uang receh ke dalam kaleng yang sengaja di simpan di depannya.

“Sudah dapat berapa Ujang?” sapa seorang wanita umur 40 tahunan yang mengagetkan si Ujang. Si Ujang menengok wanita yang nampak lebih tua dari umur sebenarnya. Wanita itu tiada lain adalah ibunya yang sama-sama membuka praktek mengemis sekitar 100-200 meter dari tempat si Ujang mengemis.

“Nggak tahu Mak, hitung aja sendiri,” jawab si Ujang sambil melihat kaleng yang ada di depannya. Tanpa menunggu, wanita yang dipanggil Emak itu mengambil kaleng yang ada di depan si Ujang. Kemudian isi kaleng tersebut ditumpahkan ke atas kertas koran yang menjadi alas mereka duduk.

“Lumayan Ujang, bisa membeli nasi malam ini. Sisanya buat membeli kupat tahu besok pagi.” Kata si Emak sambil tersenyum lebar, karena rezeki malam itu lebih banyak dari hari-hari biasanya.

“Mak…” kata si Ujang tanpa menghiraukan ucapan ibunya, “koq orang lain punya mobil? Kenapa Emak nggak punya?” Tanya si Ujang sambil menatap wajah ibunya.

“Ah, si Ujang mah, aya-aya wae, boro-boro punya mobil, saung aja kita mah nggak punya.” kata si Emak sambil tersenyum. Si Emak kemudian membungkus uang yang telah dipisahkannya untuk besok dengan sapu tangan yang sudah lusuh dan dekil.

“Iya, tapi kenapa Mak?” Rupanya jawaban si Emak tidak memuaskan si Ujang.

“Ujang …. Ujang….” kata si Emak sambil tersenyum. “Kita tidak punya uang banyak untuk membeli mobil.” kata si Emak mencoba menjelaskan. Tetapi nampaknya si Ujang belum puas juga,

“Kenapa kita tidak punya uang banyak Mak?” tanyanya sambil melirik si Emak.

“Kitakan cuma pengemis, kalau orang lain mah kerja kantoran jadi uangnya banyak.” kata si Emak yang nampak akan beranjak. Seperti biasa sehabis matahari tenggelam si Emak membeli nasi dengan porsi agak banyak dengan 3 potong tempe atau tahu. Satu potong untuk si Emak sedangkan 2 potong untuk si Ujang anak semata wayangnya.

Sekembali membeli nasi, si Ujang masih menyimpan pertanyaan. Raut wajah si Ujang masih nampak bingung.

“Ada apa lagi Ujang?” kata si Emak sambil menyeka keringat di keningnya.

“Kenapa Emak nggak kerja kantoran saja?” tanya si Ujang dengan polosnya.

“Siapa yang mau ngasih kerjaan ke Emak, Emak mah orang bodoh, tidak sekolah.” Jawab si Emak sambil membuka bungkusan yang dibawanya.

“Udah …, sekarang makan dulu mumpung masih hangat!” Kata si Emak sambil mendekatkan nasi ke depan si Ujang. Si Ujang yang memang sudah lapar langsung menyantap makanan yang ada di depannya.

“Kenapa Emak nggak sekolah?” tanya si Ujang sambil mengunyah nasi plus tempe.

“Orang tua Emak nggak punya uang, jadi Emak nggak bisa sekolah.”

“Ujang bakal sekolah nggak?” kata si Ujang sambil menatap mata si Emak penuh harap.

Emak agak bingung menjawab pertanyaan si Ujang. Lamunan Emak menerawang mengingat kembali mendiang suaminya, yang telah mendahuluinya. Mata si Emak mulai berkaca-kaca. Karena gelapnya malam, si Ujang tidak melihat butiran bening yang mulai menuruni pipi wanita yang dipanggil Emak tersebut. Karena tak kunjung dijawab, si Ujang bertanya lagi

“Kalau Ujang nggak sekolah, nanti kayak Emak lagi dong. Iya kan Mak?”

Pertanyaan Ujang makin menyesakan dada si Emak. Siapa yang ingin punya anak menjadi pengemis, tetapi si Emak bingung harus berbuat apa. Si Emak cuma melanjutkan menghabiskan nasi sambil menahan tangisnya. Akhirnya si Ujang pun diam sambil mengunyah nasi yang tinggal sedikit lagi. Deru mesin mobil menemani dua insan di pinggir jalan yang sedang menikmati rezeki Allah SWT yang mereka dapatkan. Diterangi lampu jalan mereka pun mulai berbenah untuk merebahkan diri. Di kepala si Ujang masih penuh tanda tanya, mau jadi apa dia kelak. Apakah akan sama seperti Emaknya saat ini?
Baca Selengkapnya »»  

Filosofi Hidup Islam




Berikut ini uraian tentang filosofi hidup islam dari Imam Al-Ghozali
Suatu hari, Imam Al-Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al-Ghozali bertanya....

Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid- muridnya menjawab "Orang tua, guru, kawan ,dan sahabatnya". Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "mati". Sebab, sesuai dengan janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.(Ali Imran : 185)

Kedua."Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab "Negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang". Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Walau dengan cara apa sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab "Gunung, bumi dan matahari". semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu" (Al-A'raaf :179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Keempat. "Apa yang paling berat di dunia ini?". Ada yang menjawab "besi dan gajah" Semua jawaban adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang amanah" (Al-Ahzab:72) Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Kelima. "Apa yang paling ringan di dunia ini?" Ada yang menjawab "Kapas, angin, debu dan daun-daunan". Semua itu benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan sholat”. Gara-gara pekerjaan, kita meninggalkan sholat; gara-gara bermasyarakat, kita meninggalkan sholat.

Keenam. "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang". Benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Baca Selengkapnya »»  

IBU


Mungkin tidak pernah kita ingat
 Peristiwa beberapa tahun silam
Saat itu terdengar suara tangis seorang jabang bayi
Tangisan itu terasa lembut menggema keseluruh jagad raya
Menyibak keheningan antara rasa suka dan kecemasan

Telah lahir seorang bayi mungil Dari rahim seorang ibu yang sabar nan tegar 
Mungkin tidak pernah kita ingat juga
Betapa besar jasa kedua orang tua kita
Dengan segala kesabaran dan kasih sayang
Mereka mengasuh dan mendidiknya
Dengan curahan kasih sayang tanpa batas
Peluh bercucuran air matapun mengalir deras
Tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal siang dan malam

Kita hanyalah manusia lemah saat itu
Tergolek tanpa daya, hanya bisa menangis saat lapar dan dahaga
Hanya kesabaran dan kelembutan tangan bunda
Selalu menimang dan menggendong kita
Membelai dengan hangat tanpa mengharap balas jasa

Waktu terus berlalu
Sang jabang bayi telah beranjak dewasa
Tumbuh menjadi sosok manusia yang mandiri
Berbalut dengan kecerdasan hati dan pikirannya
Buah dari jerih payah seorang bunda tercinta

Pernahkah kita sadari betapa besarnya pengorbanan bunda
pernahkah kita ucapkan terima kasih padanya
Seimbangkah balasan yang sudah kita berikan atas jasanya..?
Rasanya tidak mungkin...!
Kebaikan yang kita persembahkan seumur hiduppun
Tidak mampu menebus jasa perjuangan beliau
Saat berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan kita

Ketahuilah....
Surga dan neraka ditentukan sikap kita kepada orang tua
Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua
dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua.
Barang siapa berbakti kepada orang tua maka surga tempatnya
Barang siapa yang durhaka maka neraka telah menantinya

Allah berfirman:
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun
Dan berbuat baiklah kepada kedua Orang tua" 
(QS. An Nissa : 36)
"Dan Kami perintahkan kepada manusia
berbuat baik kepada dua orang ibu-bapanya
Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah
yang bertambah- tambah" 
(QS. Luqman : 14)
Sungguh Allah sangat memuliakan hambanya
yang berbakti kepada kedua orang tuanya
Dan sesungguhnya mendurhakai kedua orang tua
Akan memadamkan cahaya hati
seperti sabda Rasulullah" Peliharalah orang yang dicintai ayahmu
jangan engkau memutuskannya, sehingga Allah akan
memadamkan cahayamu 
(HR Muslim)

Ya Allah sungguh kami orang yang bodoh
Sering mengabaikan nasehat mereka
Merasa lebih pintar dari mereka
Sering melawan dan menyakiti hati mereka
Padahal telah Engkau tegaskan dalam firman-Mu
"Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia" 
(QS. Al Israa : 23)

Ya Allah ya Tuhan kami
Ampunilah dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku
Kasihinilah mereka sebagaimana mereka
Mengasihi dan mendidikku sewaktu aku masih kecil..

Aamiin ya Rabbal alamiin..
Baca Selengkapnya »»  

Kamis, 17 Januari 2013

Pembahasan Soal UN

Sebentar lagi waktu Ujian Nasional akan tiba..
Bagi adik - adik yang ingin mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional tersebut..
Perbanyaklah belajar dan membahas tentang pelajaran yang mau di Ujiankan.
Disini akan saya bagikan pembahasan soal ujian Nasional mata pelajaran matematika.
Silahkan saja download file nya dibawah ini :
Pembahasan Soal UN SMP : Download
Pembahasan Soal UN SMA : Download
Pembahasan Soal UN SMA(IPS) : Download
Pembahasan Soal UN SMA(IPA) : Download
Baca Selengkapnya »»  

Minggu, 06 Januari 2013

Penggunaan Kalkulator Dalam Matematika


Penggunaan kalkulator pada pelajaran matematika banyak menimbulkan kontroversi. Sebagian pakar menganjurkan pelarangan bagi siswa SD menggunakannya, sementara yang lain mengungkapkan harapan besar mereka atas efek positif penggunaan kalkulator di kelas, mengingat waktu yang bisa dihemat jika siswa menggunakan kalkulator.Ada juga yang beranggapan bahwa pemakaian kalkulator bisa menyebabkan hilangnya keterampilan tradisional berhitung.

Jika Anda guru matematika, setujukah Anda jika siswa Anda menggunakan kalkulator saat mengikuti pelajaran matematika? Menggunakan pompa air bukan berarti seseorang malas menimba, mengendarai mobil bukan berarti seseorang malas berjalan kaki, mengetik dengan komputer bukan berarti seseorang malas menulis tangan. Jika teknologi bisa memudahkan kita dalam menyelesaikan pekerjaan, mengapa tidak digunakan? Tentu dengan pemakaian yang bijak sesuai prinsip-prinsip pengajaran matematika kalkulator bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran matematika.

Siapa bilang menggunakan kalkulator adalah orang bodoh ... ?
Disini ada Panduan Penggunaan Kalkulator Dalam Pembelajaran Matematika , silahkah klick : Download
Baca Selengkapnya »»